English   Nederlands  
 
  HM Idris, Pelopor Debus Banten

Kompas/hers
Haji Moch Idris

BANYAK orang merasa ngeri ketika menyaksikan pertunjukkan debus. Bayangkan, di tengah arena, publik penonton disuguhi permainan yang tak gampang dijumpai di sembarang tempat. Golok tajam berkelebatan ibarat dalam film silat. Bara api dan senjata tajam lainnya jadi mainan tanpa memperlihatkan rasa takut sedikit pun pada para pemainnya. Di balik seni pertunjukan yang mengerikan itu, Haji Moch Idris (92), orang yang selama ini menjadi syeh pertunjukkan debus, memperhatikan anak buahnya dengan saksama. Tubuhnya memang kecil, tetapi kemampuannya dalam memimpin debus tidak perlu diragukan lagi. Dialah orang di belakang layar yang membuat para pemain kebal terhadap api dan senjata tajam apa pun dan memiliki rasa percaya diri tinggi.

Di bawah pimpinannya pula, debus Yayasan Debus Banten “Sorosohan” itu melanglang buana, sehingga debus tidak hanya dikenal di daerah asalnya. Grup debus yang dipimpinnya sudah tampil di beberapa daerah di Indonesia. Bahkan daerah-daerah yang dikunjungi bukan hanya sebatas di Tanah Air. Tetapi seni pertunjukkan ini sudah digelar di Jepang, Thailand dan Malaysia.

***

DEBUS adalah kesenian khas Banten yang ditampilkan di arena terbuka. Kesenian itu sekaligus mencerminkan sikap dan perilaku masyarakatnya yang keras namun agamis. Lihat saja ketika atraksi pertunjukan mencapai puncaknya.

Para pemain dengan tanpa ragu mengiris lidah atau pergelangan tangannya dengan golok tajam dan mengkilap, tanpa gentar sedikit pun. Mereka bahkan memakan api yang berkobar dan kemudian menggunakan kepalanya untuk menggoreng, tanpa memperlihatkan rasa panas sedikit pun.

Masih belum cukup, penonton yang terpana dan dibayangi rasa ngeri itu kemudian disuguhi atraksi paling khas, tatkala dua pemain bertelanjang dada tampil di tengah arena. Seorang di antaranya memegang almadad, yakni sejenis alat yang terbuat dari besi berdiameter sekitar 12 mm dan panjangnya sekitar 45-50 cm. Ujung yang satu sengaja dibuat tajam sehingga menyerupai jarum besar. Sementara ujung lainnya dimasukkan ke dalam gagang kayu bergaris tengah sekitar 15 cm dan tebal 10 cm.

Dengan sikap seolah-olah menantang, ujung almadad yang tajam ditempelkan ke perut. Sementara pemain lainnya mengayunkan gada memukul gagang almadad. Alat pemukul tersebut terbuat dari kayu dengan garis tengah sekitar 15 cm dan tebal 10 cm. Di bagian tengah dipasang gagang.

Namun sekeras apa pun pukulannya, ternyata tidak membuat ujung besi almadad menembus perut pemain tersebut, walaupun gada dihantamkan beberapa kali. Bahkan kulit perut di mana ujung almadad ditempelkan, tidak sedikit pun meninggalkan luka. Padahal dalam keadaan normal, besi almadad yang menyerupai jarum besar itu bisa dengan mudah menembus perut sampai belakang tubuh seseorang.

***

IDRIS mengakui, dalam debus, penonton bukan hanya disuguhi perpaduan antara seni dan keterampilan, dalam hal ini keterampilan seni bela diri. Tetapi debus yang berasal dari kata “dzikir, bathin dan salawat” itu merupakan seni yang erat kaitannya dengan pengolahan batin dan keislaman. Seni debus mengandung unsur-unsur dakwah sebagaimana awal kesenian tersebut didirikan pada masa Sultan Maulanan Hasanudin dan Sultan Banten berikutnya.

Pada masa itu, menurut Idris, seni debus dimainkan oleh dua pemain secara bergantian. Sementara pemain lainnya duduk sambil membaca salawatan dan dzikiran seraya diiringi musik terbang besar dan kendang.

Banten adalah kesultanan yang tak gampang tunduk pada kompeni. Berbagai perlawanan yang dipimpin Sultan Banten terhadap penjajah telah mengakibatkan penindasan Belanda yang tak habis-habisnya terhadap rakyat Banten. Setelah masa Kesultanan Sultan Agung Tirtayasa berakhir, Belanda menguasai Banten. Selain memberlakukan kerja paksa dan menaikkan pajak-pajak, Belanda melarang pertunjukan seni debus.

Setelah lebih daripada satu abad terpendam, salah satu alat seni debus yang disebut almadad akhirnya ditemukan Moch Idris ketika bertugas piket di rumah kediaman Residen Banten yang terletak di Banten Lama pada tahun 1949. Ketika itu tidak seorang pun tahu akan nama dan kegunaan barang tersebut.

Menurut Idris, seni debus barulah dikembangkan setelah tentara Belanda meninggalkan Indonesia pada tahun 1949. Setelah tahun 1950-an ia mulai melatih calon pemain.

“Anggotanya terus bertambah, sampai 20 orang,” katanya.

Tahun 1957, untuk pertama kalinya ia tampil di Lapang Tegallega, Bandung.

***

LAHIR di Desa Tinggar, Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang, Jawa Barat pada tahun 1907, ayah sembilan anak dan kakek lebih dari 43 cucu itu kini tinggal di Desa Tegalsari, Kecamatan Walantaka. Masa mudanya dihabiskan bersama para pejuang lainnya yang tergabung dalam laskar rakyat untuk melawan Belanda. Bersama para pejuang lainnya ia tergabung dalam Sektor Lodaya.

Tahun tanggal 12 Juli 1955, ia terpilih sebagai Kepala Desa Cigoong, Kecamatan Walantaka, di samping memimpin kesekian debus.

“Kalau di desa saya jadi kepala desa, tetapi kalau sedang ngamen, saya jadi pemain,” ia mengenang masa mudanya sambil tertawa lebar.

Setelah 31 tahun mengabdi, Idris kemudian mengundurkan diri.

“Saya harus memberi kesempatan kepada generasi muda,” katanya.

Satu-satunya kegiatannya kini mendidik dan membina generasi muda untuk mencintai dan menjaga kelestarian seni debus sebagai warisan nenek moyang yang mengandung nilai-nilai luhur.

Sebagai kesenian rakyat, seni debus bisa ditampilkan di sembarang tempat dan dalam waktu yang tidak ditentukan. Bisa di panggung atau di halaman terbuka, atau bahkan di hotel mewah sekalipun.

Alat utama kesenian ini selain terdiri dari almadad dan gada, dilengkapi dengan beberapa waditra (instrumen) pengiring, seperti terbang besar, kecrek yang terbuat dari lempengan logam, dua buah gendang, dan saron.

Para pemain debus bukan sembarang orang. Idris menyebut syarat utama harus beragama Islam dan menjalani puasa selama 40 hari.

“Tidur tidak boleh terlentang karena khawatir menelan ludah dan membatalkan puasa,” ujarnya.

Selama menjalankan puasa, ia harus membaca amalan yang diambil dari ayat Al Quran. Menurut dia, debus juga merupakan tarekat Qadariyah.

Untuk tidak membosankan penonton, Idris kemudian menambah beberapa atraksi lainnya. Misalnya silat debus, main golok, makan beling (pecahan kaca), nersisir dengan api, menggoreng di atas kepala, memotong tangan dan lidah sampai berdarah, berguling di atas kawat berduri. Atraksi lain adalah mengupas kelapa dengan cara digigit, makan bara api, dan tusuk jarum. (Her Suganda)


 
     

    D e s i g n e d b y Agrakom