Petualangan di Alam Bebas
Antara Eksplorasi dan Penyelamatan Lingkungan

JAKARTA – Siapa yang mau menyangkal jika dikatakan bagian barat Jawa ini menyimpan banyak potensi media petualangan alam. Sebut saja gunung. Dari ujung timur hingga ujung barat Ciremai, tercatat ada 16 gunung bertinggi 2.000 meter di atas permukaan laut. Atau mau bicara gua. Hingga sekarang daerah karst yang bisa paling sering disebut sebagai tempat nongkrong para penelusur gua, jumlahnya hampir mencapai 10.
Angka ini tidak termasuk daerah yang belum sempat dilihat. Walahhh….apalagi sungai. Yang teringat sebagai tempat wisata saja ada lima buah. Sedangkan potensi yang belum tergali, bisa mencapai ratusan jumlahnya. Belum lagi potensi lain untuk terus digali. Seperti, wahana untuk paragliding, canyoning, panjat air terjun, kayak laut, off road, penyusuran budaya, dan sebagainya.
Lalu mau diapakan sumber daya terpendam itu? Dibiarkan terkubur tanpa pernah dijamah? Sebaliknya, jika dieksplorasi, tidakkah keseimbangan alam akan terganggu?
Gunung
Puncak gunung mana pun selalu memancing keinginan para petualang untuk menjelajahinya. Pemandangan yang indah, desiran angin gunung, udara yang sejuk, semua mengundang orang untuk menyinggahinya. Seolah, sebuah rahasia alam yang menantang untuk diungkap.
Dari sekian banyak gunung di Jawa Barat, yang paling termasyur kemegahannya adalah Gunung Gede dan Pangrango. Dengan bentangan alam mencapai 15,196 hektar, gunung ini sebenarnya menyimpan banyak potensi petualangan yang bisa digali. Namun, banyak pihak yang menganggap usaha tersebut mengandung banyak unsur negatif. Pembatasan-pembatasan pun ditetapkan. Padahal konsep penyelamatan bukanlah berarti pembatasan.
”Sebenarnya saya juga kurang setuju dengan konsep konservasi yang ada sekarang,” ucap Dadang, anggota Mapala UI. ”Pembatasan bukan jalan keluar untuk menyelamatkan alam,” tambahnya.
Banyak usaha perjalanan pembukaan daerah baru sekarang lebih dibatasi. Banyak juga yang bilang, takut yang lain akan mengikuti. Faktor standar keamanan yang tak setara antara sesama pencinta kegiatan ini juga menjadi faktor utama alasan tidak disetujuinya sebuah usaha penggalian potensi baru.

Sungai
Dari gunung kita mengalir ke sungai. Lain lagi di sungai. Pergi berarung jeram merupakan sebuah pengalaman yang sulit dilupakan seumur hidup. Terempas di jeram, muka dan badan terciprat air, atau berhenti sebentar di eddies (pusaran air) untuk melakukan scouting (pengintaian), terjerembab di hole (lubang karena patahan sungai), atau merasakan perahu lurus vertikal karena terkena standing waves (gelombang air seperti ombak), benar-benar menjadi tantangan tersendiri buat para pencinta olahraga petualangan.
Namun tetap masih banyak saja daerah aliran ini yang belum dimaksimalkan sumber dayanya.
”Kami yang pertama mencoba sungai tersebut sebagai wahana arung jeram,” ucap Inge Renca, salah seorang peserta kegiatan tersebut. Mengenai masalah pelestarian lingkungan, menurutnya, bisa tetap dilakukan asal dapat saling menjaga. ”Masalahnya sekarang banyak orang salah kaprah mengenai pemanfaatan lingkungan. Bukankah daripada menebang pohon, lebih baik memanfaatkan potensi itu sebagai wisata,” cetusnya.

Laut
Sungai bermuara ke laut. Bermain di laut juga bukan main-main asyiknya. Melihat matahari terbenam di atas perahu yang bergoyang, meninggalkan kenangan selain kemewahan. Masuk ke dalamnya membuat kita mengenali keindahan yang senyap.
”Biasanya kalau kita di laut lebih bisa diterima, karena biasanya jarang ada orang datang ke sana,” ucap Effendi Soleman, seorang petualang lautan. ”Malah, kalau di luar taman nasional pulau seribu kadang kita ditolak kedatangannya,” tambah pria yang terkenal dengan petualangan cadik nusantara. ”Itu biasanya kalau kita mampir ke pulau wisata di Kepulauan Seribu.”
Beda dari dua kondisi darat di atas. Laut lebih terlihat menerima karena jarang ada manusia mau dekat menjenguknya. Padahal tanpa mengenal bagaimana kita mencintainya. Seperti di Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu. Sebenarnya potensi petualangan lautan yang ada di sana sangat besar. Namun, sayangnya masih jarang orang yang mau coba menggali potensi itu di sana.
Seharusnya kita sekarang lebih mengerti. Bahwa bumi diciptakan untuk manusia. Tak ada hak untuk melarang-larang. Sebab kita semua manusia sama. Sedangkan kalau masalahnya penyelamatan. Bukan berasal dari pembatasan-pembatasan. Tapi dari dasar rasa cinta yang tumbuh wajar karena kita mengenalinya.

Now I see the secret of making of the best person.
It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth.
(Walt Whitman; Song of the Open Road)
(Ahmad Sarbini)